kembali di 24 april
jakarta tidak pernah ramah pada siapapun, tidak kepada orang berduit apalagi terhadap orang orang kecil.
ucapan terima kasih yang menguap tanpa adanya balasan kembali adalah hal yang biasa. bahkan pembeli yang seharusnya diperlakukan ramah pun kerap kali mendapat perlakuan tidak enak. di salahkan karena membayar tidak dengan uang pas.
jakarta telah kehilangan keramahannya. entah karena tuntutan hidup yang begitu keras ataukah sesuatu telah menggerus nurani penduduknya?
saya masih tidak tahu. sudah sebulan sejak meninggalkan bandung, saya tertatih mengikuti roda kehidupan di ibu kota. ada saat saya terseret arus, ikut-ikutan menjadi tidak ramah. membenarkan diri sendiri, mendongak terlalu ke atas. marah terhadap kendaraan bermotor yang melaju seenaknya, senewen terhadap orang asing yang tak sengaja menyenggol ketika berpapasan. apapun terlihat salah semua.
lantas apakah saya harus terus menyalahkan keadaan?
jakarta tidak salah karena kehilangan santun, begitu juga orang orang yang ada di dalamnya. saya hanya perlu berkompromi. karena bagaimanapun 4 semester ke depan dalam perjalanan saya ke kampus salemba saya akan banyak berhadapan dengan hal hal baik dan buruk.
dan pagi ini ketika saya membuka djendela dari tempat tinggal saya di lantai empat, melihat alam raya melukiskan permadani biru di awang awang, pelan saya memohon sebuah permintaan, “jangan jadikan saya pribadi yang keras dan tidak punya nurani di tengah tengah kota yang tidak bersahabat ini ya tuhan, saya tidak ingin kehilangan essensi sebagai manusia yang tidak bisa menghargai dan menyayangi orang lain karena tuntutan kehidupan, tetapi lembutkan hatiku untuk dapat bersyukur dalam keadaan apapun, memperlakukan orang orang di sekitar sama seperti engkau memperlakukan aku”.
umur yang bertambah hari ini bukan hanya tentang itungan angka, tetapi merupakan bagian dari perjalanan panjang yang mungkin masih akan saya tempuh.
selamat ulang tahun gita san, tuhan memberkati.





